Kamis, 07 April 2016

miskonsepsi pada pembelajaran kimia



MISKONSEPSI PADA PEMBELAJARAN KIMIA

                   Kimia merupakan suatu bidang ilmu pengetahuan yang menekankan pada penguasaan konsep. Dalam proses pembelajaran, konsep merupakan hal yang perlu dipahami, dipelajari dan dikuasai oleh siswa. Konsep kimia terbentuk dalam diri siswa secara berangsur-angsur melalui pengalaman dan interaksi mereka dengan alam sekitarnya (Faridah, 2004)
                   Di sekolah, mata pelajaran kimia dianggap sulit oleh sebagian besar siswa, sehingga banyak siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) yang tidak berhasil dalam belajar kimia. Enawati et al (2004) mengatakan bahwa diantara para siswa SMA berkembang anggapan bahwa mata pelajaran MIPA terutama kimia merupakan mata pelajaran tersulit dan menjadi momok di kalangan mereka, sehingga tidak heran jika sebagian mereka tidak mencapai ketuntasan minimum dalam mata pelajaran kimia.

                   Miskonsepsi merupakan permasalahan umum dalam pembelajaran kimia di sekolah menengah dan perguruan tinggi yang signifikan menghambat belajar dan pengembangan kognitif. Penelitian pendidikan kimia banyak melaporkan permasalahan miskonsepsi ini, namun sampai sekarang miskonsepsi masih merupakan permasalahan dalam pembelajaran kimia yang memerlukan penanganan serius. Hal yang sama direfleksikan oleh Johnstone (2000: 34), “Research literature has been dominated by work on misconceptions, but little has as yet appeared about how to reverse these or to avoid them altogether”. Pemecahan permasalahan miskonsepsi memerlukan pembelajaran dengan strategi khusus. Pembelajaran tradisional sulit mengatasi permasalahan miskonsepsi atau pengubahan konseptual (Ates, 2003; Coll & Treagust, 2001)
                  
                   Ilmu kimia adalah sains IPA yang khusus mempelajari struktur, susunan, sifat, dan perubahan materi, serta energi yang menyertai perubahan tersebut. Kimia melihat struktur dan susunan materi dari sisi partikel materi yang non-observable yang menentukan sifat-sifat materi (observable). Proses-proses kimia dan semua realitas kimia (fenomena makroskopis) secara paradigmatik dapat dijelaskan dari perspektif molekular (submikroskopis) sehingga kimia dipandang sebagai submicroscopic science (Wu, dkk., 2001). Johnstone (2000) menyatakan bahwa kajian kimia terdiri dari tiga aspek yang saling terkait satu dengan yang lain yang dilukiskan sebagai triangle, yaitu makroskopis, submikroskopis, dan simbol, seperti digambarkan pada Gambar 1.


Menurut Suparno (2005) ada lima hal yang menjadi penyebab miskonsepsi yaitu siswa, guru, buku teks, konteks dan metode mengajar. Penyebab miskonsepsi dari siswa terdiri dari berbagai hal, yaitu : prakonsepsi, pemikiran humanistik, pemikiran asosiatif siswa, reasoning yang tidak lengkap, intuisi yang salah, perkembangan kognitif siswa, minat siswa, dan kemampuan siswa.
                   Munculnya miskonsepsi bisa dilihat dari dua sisi umum, yaitu karakteristik konsep, dan pembelajaran. Dari sisi karakteristik konsep kimia: (1) Konsep dasar kimia bersifat abstrak, esensi kimia adalah kajian secara submikroskopis dan spatial in nature (Wu, dkk., 2001), (2) Makna konseptual kimia sering bertentangan dengan pengamatan kasat mata, (3) Beberapa istilah yang digunakan sama dengan dalam kehidupan sehari-hari, terkait dengan budaya, tetapi mempunyai makna yang berbeda dengan makna konceptual kimia, dan (4) Real word chemistry sangat kompleks untuk dikaji secara komprehensif dalam pembelajaran kimia, sehingga kasus dalam pembelajaran kimia cenderung parsial (exemplar models) terkait dengan konsep yang sedang dibahas

Dari sisi pembelajaran: (1) pembelajaran kimia cenderung algoritmik, verbalisme, perdefinisi dan contoh (Niaz, 2005; Stamovlasis, dkk., 2005), (2) pembelajaran hanya menekankan fenomena fisis (makro) dan terkesan penjejalan fakta (marshals of evident) sehingga tidak efektif (Gabel,1999), (3) dalam pembelajaran, kajian submikroskopis sering diabaikan ataupun cenderung dilaksanakan secara parsial dengan kajian makroskopis dan simbol, (4) kurikulum kimia terkesan kurang hierarkis dan tidak lengkap (incompleteness), (5) bahasa dan tidak konsistennya paparan yang digunakan dalam buku teks (Chiu, 2005), dan (6) bentuk-bentuk pemodelan, analogi, dan penjelasan dari guru yang tidak bisa mempresentasikan makna konseptual secara menyeluruh bisa menyisakan kekeliruan penafsiran atau miskonsepsi yang bersifat konsisten (Chiu, 2005).

                   Miskonsepsi dalam pelajaran kimia akan sangat fatal dikarenakan konsep-konsep kimia saling terkait antara satu dengan yang lainnya, sehingga kesalahan konsep di awal pembelajaran akan berpengaruh kepada pelajaran lanjutan, hal ini akan bermuara pada rendahnya kemampuan siswa dan tidak tercapainya ketuntasan belajar ,salah satu contohnya adalah pemahaman materi laju reaksi. Laju reaksi merupakan bagian dari konsep kimia yang bersifat abstrak, sehingga sering membuat siswa kesulitan dalam memahami konsep ini. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sinaga (2006) menunjukkan bahwa hampir setengah siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep pengaruh katalis dan suhu terhadap laju reaksi.

Tabel 1.      Jenis-Jenis Miskonsepsi
No
Jenis Miskonsepsi
Keterangana
1
Kepercayaan
bek
Konsepsi popular yang berasal dari pengalaman sehari-hari.
Contoh: kentang dapat megurangi kadar garam dalam larutan
2
Kepercayaan non-ilmiah
Termasuk di dalamnya adalah pandangan yang keliru yang dipelajari siswa dari sumber non ilmiah, misalnya mitos dan sebagainya.
Contoh: gas tidak memiliki massa
3
Salah paham konseptual
Berkembang saat siswa diberi informasi ilmiah yang tidak memberi tantangan pada paradoks dari kepercayaan beku dan kepercayaan non ilmiah.
Contoh: larutan adalah campuran zat dengan air
4
Miskonsepsi vernacular
(dialek)
Muncul dari penggunaan kata atau istilah yang berbeda pada kehidupan sehari-hari dan ilmiah.
contoh: Air berwarna putih atau air berwarna bening.
5
Miskonsepsi faktual

Kesalahan konsep yang terjadi dari sejak kecil dan tidak berubah atau tertantang hingga dewasa.
Contoh: zat kimia itu berbahaya



Miskonsepsi yang terjadi diantaranya adalah sebagai berikut :

Pengaruh Luas Permukaan Terhadap Laju Reaksi
Miskonsepsi yang terjadi adalah : zat yang memiliki ukuran partikel lebih kecil memiliki luas permukaan sentuhan yang lebih kecil dalam masa yang sama. Hal ini bertentangan dengan konsep yang benar dimana bahan kimia yang memiliki ukuran lebih kecil memiliki luas permukaan sentuhan lebih besar sehingga reaksi lebih cepat berlangsung (Goldberg, 2004). Dalam memahami pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi, siswa mengira bahwa bahan yang berbentuk serbuk memiliki luas permukaan lebih kecil sehingga reaksi lebih cepat berlangsung.

Pengaruh suhu terhadap laju reaksi
Disini siswa sering salah dalam memahami pengaruh katalis dan suhu terhadap laju reaksi terutama mereka sering tertukar dalam memahami antara energi kinetik reaktan dan energi aktivasi reaktan. Dalam sebuah penelitan dikatakan  sebanyak 2,63% siswa beranggapan bahwa kenaikan suhu meyebabkan energi aktivasi menurun, dan sebanyak 55,26% siswa beranggapan peningkatan suhu menyebabkan energi aktivasi meningkat sehingga reaksi lebih cepat berlangsung.
.
Pengaruh katalis terhadap laju reaksi
Menurut temuan Sinaga (2006) dimana hampir setengah dari jumlah siswa mengalami miskonsepsi pada konsep pengaruh katalis terhadap laju reaksi. Dalam hal pengaruh penambahan katalis terhadap laju reaksi, sebagian besar siswa memahami bahwa penambahan katalis dapat menaikkan energi aktivasi reaktan sehingga reaksi lebih cepat berlangsung.


Sumber





6 komentar:

  1. ya, kita tahu bahwa miskonsepsi adalah sebuah kesalahpahaman yang mengakar. apabila tidak diperbaiki maka akan menimbulkan suatu permasalahan yang baru. nah, menurut Anda bagaimana cara kita agar terhindar dari miskonsepsi ? lalu pada materi laju reaksi yang Anda kemukakan diatas, bagaimana solusi agar kedua belah pihak (siswa dan guru) tidak mengalami miskonsepsi ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk mengatasi terjadinya miskonsepsi seperti yang telah kita pelajari adalah salah satunya dengan mawas diri,sering melatih dan membiasakan diri kita ,dan selalu berusaha unutk mencari tahu.
      kemudian ada tiga cara biasanya yangs ering digunakan dalam menangani miskonsepsi yaitu 1.penggunaan mind mapping yang merupakan teknik untuk mempelajari pengetahuan dalam bentuk grafik,menilai pemahaman atau mendiagnosis miskonsepsi,2.Clustering yaitu proses bekerja dalam kelompok yang sangat berguna bagi para guru mengungkapkan miskonsepsi mahaisswa sejak awal,3.Evaluasi yaitu mengajukan pertanyaan terbuka tentang konsep,dan dari jawaban siswa dapat diketahui apakah siswa memahami konsep atau tidak.

      Hapus
  2. Menurut saya, miskonsepsi bisa terjadi pada rendahnya kemampuan siswa dan tidak tercapainya ketuntasan belajar ,salah satu contohnya adalah pemahaman materi laju reaksi. Ada baiknya kita sebagai calon guru memperhatikan pengetahuan awal yang dimiliki peserta didik dan mengaiktan konsep laju reaksi terhadap kehidupan sehari - hari sehingga peserta didik lebi mudah untuk memahami konsep tersebut.

    BalasHapus
  3. Menurut saya,apa yang telah diutarakan oleh saudari kiki sudah benar. Pemecahan permasalahan miskonsepsi memerlukan pembelajaran dengan strategi khusus apalagi dalam pembelajaran pada materi laju reaksi itu dan juga bagi si guru nya juga harus mampu mengaitkan perumpaman materi yang terkait itu dengan jelas dan konkrit agar miskosepsi tersebut tidak terjadi bagi si muridnya serta makna penyampaian materinya harus konceptual kimia, dan Real word chemistry sangat kompleks untuk dikaji secara komprehensif dalam pembelajaran kimia, sehingga kasus dalam pembelajaran kimia cenderung parsial (exemplar models) terkait dengan konsep yang sedang dibahas.

    BalasHapus
  4. dari artikel yang anda buat mengenai miskonsepsi ini sangat menarik. apalagi pada dasarnya miskonsepsi memiliki sifat yang stabil dalam artian bahwa miskonsepsi tidak mudah diubah menjadi konsep yang lebih ilmiah. hal ini terjadi karena siswa telah mengandalkan konsepsinya untuk memahami suatu masalah, selain itu siswa juga tidak mudah untuk mengadopsi cara berfikir yang baru. Kondisi demikian tidak dapat dibiarkan sehingga diperlukan usaha untuk memperbaikinya. Menurut Clements miskonsepsi tidak hilang dengan metode mengajar yang klasik, yaitu metode ceramah atau teacher centered sehinga dianjurkan untuk menggunakan cara mengajar baru, yang lebih menantang pengertian siswa. menurut anda model pembelajaran atau cara mengajar yang seperti apa yang bisa membantu siswa dalam pembelajaran kimia khususnya laju reaksi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih untuk saudari Tri,di sini kan kita tahu bahwa kimia merupakan salah satu materi yang abstrak sehingga akan sulit untuk mempelajarinya,biasanya matri laju reaksi dan beberapa materi kimia ini haruslah memahami konsepnya agar materi yang abstrak tersebut dapat dipahami untuk itulah biasanya model pembelajaran yang biasa digunakan adalah Inquiry.

      Hapus